Gerhana Matahari lintasi Surabaya 9 Maret 2016, MAsjid Al Abror Simolawang Laksanakan Sholat Gerhana


Gerhana matahari merupakan peristiwa di mana posisi Bulan, Matahari dan Bumi sejajar dan berada pada garis lurus. Saat itu Bulan akan melintas diantara Matahari dan Bumi, untuk beberapa waktu cahaya Matahari ke Bumi akan terhalang bayangan Bulan. Ketika fase total itu terjadi bulan menutupi Matahari, akan tampak corona Matahari akan tampak seperti menjulur dari pinggir bagian yang ditutupi Bulan.

Fenomena alam  gerhana matahari akan terjadi 9 Maret 2016 dan Indonesia adalah satu satunya negara yang bisa menikmati fenomena ini di daratan. Di Surabaya proses gerhana matahari berlangsung sekitar 2 jam 19 menit. Gerhana matahari akan mulai menginjak Surabaya pada pukul 06.22 wib dengan ketinggian matahari pagi hanya 11˚ atau hanya sekitar sekepalan tangan yang dilencangkan kedepan di ufuk timur (azimuth 93˚). Untuk itu dibutuhkan sudut pandang arah timur yang relatif rendah dari gangguan bangunan maupun pepohonan. Gerhana matahari dari langit Surabaya akan mencapai puncaknya pada pukul 07.30 wib dengan ketinggian matahari sudah mencapai 28˚ dengan totalitas gerhana sebesar 82% piringan matahari tertutup oleh Bulan, kemudian Bulan berangsur menyibak pergi dari Matahari hingga kontak terakhir pada pukul 08.41 wib pada ketinggian 45˚.

Masjid Al Abror Simolawang Surabaya akan melaksanakan sholat gerhana Rabu 9 Maret 2016 jam 07.00 wib dengan imam KH. Yahya Ghozin.

Sabda Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam tentang Gerhana
Dari sahabat al-Mughirah bin Syu’bah, bahwa Nabi Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

{إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ, وَلاَ لَحِيَاتِهِ, فَإِذَا رَأَيْتُمُو هُمَا فَادْ عُوا اللهَ وَصَلُّوا حَتَّى تَنْكَشِفَ}

”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua ayat (tanda) di antara ayat-ayat Allah. Tidaklah terjadi gerhana matahari dan bulan karena kematian seseorang atau karena hidup (lahirnya) seseorang. Apabila kalian melihat (gerhana) matahari dan bulan, maka berdoalah kepada Allah dan sholatlah hingga tersingkap kembali.” (HR. Al-Bukhari no. 1043, dan Muslim no. 915)

Para ulama sepakat bahwa sholat gerhana matahari dan bulan adalah sunnah dan dilakukan secara berjamaah. Berdasarkan redaksi hadits yang pertama di atas penamaan gerhana matahari dan bulan berbeda, sholat khusuf untuk gerhana bulan dan sholat kusuf untuk gerhana matahari.
Imam Maliki dan Syafi’i berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Sayyidatuna A’isyah berpendapat bahwa sholat gerhana dengan dua roka'at dengan dua kali ruku’, berbeda dengan sholat Id dan Jum’at. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas juga terdapat penjelasan serupa, yakni sholat gerhana dikerjakan dua roka'at dengan dua kali ruku’, dan dijelaskan oleh Abu Umar bahwa hadits tersebut dinilai paling shahih.
Maka dengan begitu keistimewaan shalat gernana dibanding dengan shalat sunnah sunnah lainnya terletak pada bilangan ruku’ pada setiap roka’atnya. Apalagi dalam setiap ruku’ disunnahkan membaca tasbih berulang-ulang dan berlama-lama.


سُبْحَانِ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ
Tasbih berarti gerak yang dinamis seperti ketika bulan berrotasi (berputar mengelilingi kutubnya) dan berevolusi (mengelilingi) bumi, bumi berotasi dan berevolusi mengelilingi matahari, atau ketika matahari berotasi dan berevolusi pada pusat galaksi Bimasakti. Namun pada saat terjadi gerhana, ada proses yang aneh dalam rotasi dan revolusi itu. Maka bertasbihlah! Maha Suci Allah, Yang Maha Agung!

Adapun tata cara shalat gerhana adalah sebagai berikut: 
 
1. Memastikan terjadinya gerhana bulan atau matahari terlebih
    dahulu. (Sebagai panduan lihat di rubrik IPTEK)
2. Shalat gerhana dilakukan saat gerhana sedang terjadi.
3. Sebelum sholat, jamaah dapat diingatkan dengan ungkapan,
    ”Ash-shalatu jaami'ah.”
4. Niat melakukan sholat gerhana matahari (kusufisy-syams)
    atau gerhana bulan (khusufil-qamar),
    menjadi imam atau ma’mum.


أُصَلِّيْ سُنَّةً لِكُسُوْفِ الشَّمْسِ / لِخُسُوْفِ الْقَمَرِ اِمَامًا / مَأْمُوْمًا لِلّهِ تَعَالَى
5. Sholat gerhana dilakukan sebanyak dua rakaat.
6. Setiap rakaat terdiri dari dua kali ruku dan dua kali sujud.
7. Setelah rukuk pertama dari setiap rakaat membaca Al-Fatihah
    dan surat kembali

8. Pada rakaat pertama, bacaan surat pertama lebih panjang
    daripada surat kedua. Demikian pula pada rakaat kedua,
    bacaan surat pertama lebih panjang daripada surat kedua.
    Misalnya rakaat pertama membaca surat Yasin (36)
    dan ar-Rahman (55), lalu raka’at kedua
    membaca al-Waqiah (56) dan al-Mulk (78)
9. Setelah sholat disunahkan untuk berkhutbah

(Q/R) 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Gerhana Matahari lintasi Surabaya 9 Maret 2016, MAsjid Al Abror Simolawang Laksanakan Sholat Gerhana"

Posting Komentar